(“BAHASA”/Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia Journal/2004년 6월호에 게재, 수정본) (표지 제목으로 채택) Hegemoni Bahasa : 4x4=16
Kita selalu membicarakan hegemoni sesuatu bahasa terhadap bahasa lain, seperti hegemoni bahasa Inggeris terhadap bahasa Melayu. Namun begitu, kita belum pernah membicarakan hegemoni “bahasa gaul”, yang dipenuhi oleh singkatan yang hanya difahami oleh orang tertentu, terhadap bahasa yang lain. KIM, YOUNG SOO membincangkan perkara tersebut dengan rujukan khusus terhadap masyarakat dan masyarakat Indonesia.
Apakah yang dapat difahami tentang judul tersebut?
Logikanya memang benar, empat kali empat sama dengan 16, sesuai dengan perhitungan angka berdasarkan teori matematika. Namun begitu, ”bahasa gaul” masyarakat Indonesia, khususnya golongan muda-mudi, hasil rumusan itu berubah menjadi suatu kalimat bahasa mereka sendiri yang mengikut perkembangan terbaharu, dengan erti “sempat, tidak sempat harus dibalas”, sewaktu mereka saling berkirim surat untuk mengungkap cinta mereka. Kebanyakan generasi muda Indonesia tanpa disadari, ketika mereka mengadakan surat-menyurat, khususnya dalam pengiriman e-mail lewat jaringan internet, menggunakan rumusan itu sebagai kalimat terakhir e-mail mereka. Yang dimaksudkan ialah agar si pengirim dapat menerima balasan daripada si penerima secepat-cepatnya.
Bunyi “empat” disamakan dengan kata “sempat” dan “enambelas” disamakan dengan kata “dibalas” seperti halnya kalimat dalam gurindam yang kedengarannya mirip satu sama lain. Selain itu, rumusan 4x4=16, relatif pendek dan efisien, daripada kalimat “sempat, tidak sempat harus dibalas”. Oleh sebab itu, rumusan ini, kini bahkan sudah lama, dalam masyarakat Indonesia menjadi kalimat yang sarat maknanya atau signifikannya, meskipun bangsa Indonesia mempunyai bahasa kebangsaannya, yakni bahasa Indonesia yang berakar pada bahasa Melayu.
Ada contoh lain. Di Indonesia, untuk mengetahui dampak negatif perkembangan bahasa dalam masyarakatnya, sebagai akibat penggunaan ”bahasa gaul”, ada singkatan “EGP”, dengan kalimat lengkapnya “Emangnya Gua Pikirin” yang terdiri daripada bahasa setempat yakni bahasa Betawi (Jakarta) dan Bahasa Indonesia, berarti ”saya tidak ambil peduli tentang hal itu”. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak “ABG” (Anak Baru Gede) atau remaja Indonesia yang tetap menggunakan istilah “EGP” dalam bahasa pergaulan sehari-hari mereka, tanpa memikirkan tata bahasanya lagi. Sementara itu, antara golongan muda atau disebut juga kawula muda, kalau ada orang yang belum menghafal ”bahasa gaul” itu, dia dengan mudah, disebut Kuper singkatan daripada ”kurang pergaulan”. Tentu sahaja dia akan disisihkan oleh temannya.
Daripada pengalaman tahun lalu, tatkala saya berkesempatan mengunjungi Indonesia selama tiga bulan, pada suatu hari, di pinggir jalan di Jakarta, saya membeli majalah ABG Indonesia tentang gerak dan dinamika bintang filem dan penyanyi yang masih naik daun. Sayang sekali, saya yang masih belajar bahasa Indonesia sejak tahun 1970, sama sekali tidak dapat memahami isi kalimat dalam majalah itu yang kebanyakannya menggunakan ”bahasa gaul”. Sudah tentu, saya hanya melihat foto yang cantik dan menarik yang dimuatkan dalam majalah itu.
Di Korea Selatan, fenomena seperti itu, bahkan lebih parah lagi, dari Malaysia dan Indonesia, kerana jumlah pengguna internet, semakin hari semakin meningkat. Dengan kata lain, angka nisbah pengguna internet apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk, Korea Selatan menduduki peringkat pertama di seluruh dunia, sesuai dengan nama negara Korea Selatan, yakni “Negara terkuat dalam bidang teknologi maklumat”. Banyak pengguna internet termasuk e-mel, di Korea Selatan, dengan sengaja menggunakan kata singkatan, kod tertentu, atau ungkapan yang hanya diketahui oleh golongan tertentu sahaja, dengan alasan penggunaannya membawa hasil yang efisien, yakni “menghemat waktu” dan “menjaga rahasia peribadi mereka”.
Dengan fenomena itu, bahasa Korea kini juga semakin rosak, khususnya dalam kalangan pengguna internet, yang merupakan salah satu sarana multi-media canggih yang dicipta untuk mendukung dan membantu komunikasi antara manusia. Hal itu tentu sahaja mengakibatkan masalah yang serius, yakni semakin melebarkan jurang pemisah antara golongan masyarakat Korea, khususnya antara generasi muda dengan generasi tua.
Selain itu, dunia multi-media, khususnya siaran radio dan televisyen Korea, tanpa disedari telah menggunakan istilah atau kod tertentu yang dicipta oleh ”bahasa gaul” dan internet, untuk menarik perhatian pendengar atau penonton, khususnya generasi muda. Hal itu sudah tentu semakin merosak bahasa Korea bahkan mencampuradukkan komunikasi antara masyarakat Korea.
Antara fungsi utama radio dan televisyen termasuklah menjaga, memelihara, dan melestarikan bahasa kebangsaan masing-masing sebaik-baiknya melalui usaha pemilihan dan penggunaan bahasanya yang baik dan betul, sesuai dengan tatabahasanya. Hal ini demikian kerana dampak penyiaran radio dan televisyen termasuklah siaran internet dan sarana multi-media, sangat besar pengaruhnya terhadap penggunaan bahasa sehari-hari dalam masyarakat.
Berdasarkan pandangan itu, usaha pengembangan bahasa kebangsaan hendaklah melangkah seiring sejalan dengan perkembangan dinamika masyarakat, termasuk penambahan istilah atau ungkapan baharu yang dapat melancarkan komunikasinya, tetapi pengembangan dan perkembangan itu, harus berdasarkan standard atau teori tatabahasa masing-masing, dengan pengawasan ketat dan sistematik oleh badan-badan ilmiah linguistik, seperti Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) jika di Malaysia.
Kalau masyarakat Malaysia akan memasuki zaman internet, mereka pastilah juga mengalami fenomena masyarakat Korea Selatan sekarang ini, semakin merosak bahasa Koreanya, kerana penyalahgunaan bahasa kebangsaannya di jaringan internet dan sarana multi-media yang kebanyakan menggunakan istilah singkatan atau kod yang hanya dimengerti oleh golongan tertentu sahaja.
Oleh sebab itu, sangatlah diperlukan usaha untuk menjaga, mengembangkan, dan melestarikan bahasa kebangsaan, melangkah bersama-sama perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi yang selalu memerlukan istilah atau kata baharu, tanpa merosakkan wibawa bahasa kebangsaannya, khususnya tatabahasa. Di Malaysia, tugas ini dipegang oleh DBP, sebagai benteng terakhir untuk menjaga keunggulan, kemurnian dan pelestarian bahasa Melayu yang baik dan betul, khususnya ketika menghadapi zaman multi-media ini, diiringi oleh limpah-ruah bahasanya, baik halus maupun kasar.
Oleh sebab itu, masyarakat Malaysia, khususnya golongan muda-mudi hendaklah tidak menggunakan rumusan 4x4=16, ketika saling berkirim surat cinta dengan erti “sempat, tidak sempat, harus dibalas”. Namun begitu, adakah penggunaan penemuan baharu dalam internet sengaja memutarbalikkan makna yang sebenarnya? Misalnya istilah perangkat lunak untuk software digantikan oleh istilah lain, yang lagi popular dalam kalangan muda-mudi dan masih ada segudang istilah baharu dalam dunia siber yang seharusnya tidak diputarbalikkan, kerana hal itu dapat membingungkan masyarakat awam.
Kendatipun demikian, dunia ini terus berputar, generasi muda tumbuh dan berkembang silih berganti, yang tentu sahaja perbendaharaan bahasanyapun saling mempengaruhi kerana pengaruh globalisasi. Penemuan istilah baharu yang diperoleh dan digunakan dalam kalangan remaja, terutama melalui sembang di internet, akan tetap berkembang sesuai zamannya, dan tak dapat dibendung.
Kim, Young-soo : Kepala Siaran Bahasa Indonesia, Radio Korea International, Korean Broadcasting System, Korea Selatan
|